4 Kelompok Muslim Saat Natal

foto: Cahyo Dwi Nugroho

2016 nyaris mencapai garis akhir. Banyak hal terjadi sejak terompet pertanda 2016 dimulai. Awal tahun, duka merundung Indonesia akibat ledakan bom di Sarinah. Duka di Januari berganti kebanggaan di Februari. Joey Alexander berhasil menjadi salah satu nominasi di ajang bergengsi, Grammy.

2016 bisa disebut sebagai tahunnya kuda hitam di sepakbola. Leicester secara mengejutkan sukses mengangkat trofi Liga Primer Inggris. Berlanjut dengan keberhasilan Portugal menjadi nomor satu di Eropa. Berita duka juga menghinggapi dunia olahraga saat Muhammad Ali meninggal pada Juni, di usia ke 74 tahun.

Episode panjang sidang Jessica berakhir di bulan Oktober dengan putusan hukuman kurungan 20 tahun. Bulan September, “virus” PPAP menyerang dan sukses menyita perhatian masyarakat Indonesia. Sebelumnya, Menteri Pendidikan baru pengganti Anies Baswedan sempat membuat heboh publik lewat gagasan sekolah seharian penuh, atau fulldayschool, walaupun akhirnya rencana tersebut batal.

November, Amerika Serikat memasuki era baru. Setelah habis dua peridoe kepemimpinan Barrack Obama, Donald Trump menjadi suksesor setelah menang atas rivalnya, Hillary Clinton. Ribut-ributnya juga sempat singgah di Indonesia. #MannequinChallenge menutup November yang sukses membuat dunia “berhenti”.

Penghujung tahun, banyak hal yang cukup menyita perhatian. Mulai dari Aksi Super Damai, perjuangan timnas Indonesia di Piala AFF, hingga uang rupiah desain baru mendapat pro dan kontra. Terbaru, yang sampai saat ini masih ramai dibahas adalah fenomena Om Telolet Om.

Namun, bulan Desember belum lengkap jika tak ada ribut-ribut perkara boleh tidaknya umat Muslim mengucapkan Selamat Natal. Ribut yang (kalau tidak salah) sudah berlangsung beberapa tahun kebelakang.

Secara umum, dalam perdebatan ini, umat Muslim (di media sosial) terbagi kedalam empat kelompok yang biasanya masing-masing kelompok ini sudah memiliki dasar mengapa ia masuk dalam kelompok tersebut.  Apa saja?

YANG GAK NGUCAPIN DAN GAK RIBUT

Bagi dia, Natal dilewati dengan gembira karena libur.

YANG NGUCAPIN DAN GAK RIBUT

Setelah mengucapkan selamat Natal kepada sahabat-sahabat Nasrani-nya, ia melewati Natal dengan gembira. Sama seperti kelompok pertama. Karena apa? Karena libur.

YANG GAK NGUCAPIN DAN RIBUT

Dalil-dalil yang mendukung keputusannya untuk tidak mengucapkan selamat Natal sudah disiapkan di memo smartphone-nya. Akan dikeluarkan saat isu boleh tidak boleh mengucapkan mencapai puncaknya.

YANG NGUCAPIN DAN RIBUT

Orang dari kelompok ini biasanya sudah koar-koar beberapa hari sebelum Natal. Di semua media sosialnya, ia menulis status, “pengen cepet Natal nih, biar bisa ngucapin Selamat Natal”. Saat Natal tiba, linimasa media sosialnya penuh dengan unggahan tangkapan layar berisi ucapan Natal. Sama seperti kelompok sebelumnya, kelompok ini sudah memiliki alasan yang kuat yang sepaham dengan keputusannya.

Jadi, itulah empat kelompok muslim (di media sosial) saat Natal. Semoga, mau ngucapin atau nggak ngucapin, gak usah pake ribut-ribut ya.

Selamat liburan.

Komentar