Bahaya Cocoklogi Timnas Indonesia

sumber: klik gambar

Tahun 2016 ini adalah kali ke sebelas turnamen Piala AFF digelar. Sudah empat negara yang pernah menikmati indahnya gelar juara. Singapura dan Thailand telah sama-sama menggondol 4 gelar. Dua sisanya milik Malaysia dan Vietnam. Indonesia sendiri, sepanjang  sepuluh kali (hingga 2014) keikutsertaannya dalam ajang dua tahunan ini, belum pernah sekalipun merasakan tempat tertinggi. Jika ada yang merasa bangga dengan raihan empat kali mendapatkan peringkat dua, tolong bangunkan dia.

Jika kebanyakan orang percaya dengan ucapan ‘kesempatan hanya datang sekali’, Tuhan begitu baiknya pada Indonesia yang memberikan kesempatan ke lima. Ya, tahun 2016 ini final kembali dicapai. Final yang didapat hasil dari masalah-masalah yang mengadang, yang datang sejak masa persiapan. Seperti diketahui, Piala AFF 2016 diselenggarakan berbarengan dengan turnamen Torabika Soccer Championship, yang diadakan untuk mengisi kekosongan liga. Hal tersebut membuat pemain untuk timnas Indonesia “dijatah”, hanya maksimal dua pemain dari tiap klub.

Beberapa hari jelang dimulainya turnamen, masalah lain yang tak kalah pelik hadir. Irfan Bachdim yang dipesiapkan untuk menemani Boaz menjadi andalan di lini depan, menderita cedera setelah ditekel Hansamu saat sesi latihan. Akibatnya, Bachdim dicoret dan harus rela mendukung timnas dari jauh, bersama Jennifer Bachdim, istrinya. Tentunya. 

Pertandingan pertama, Indonesia bertemu Thailand, tim yang sedang merajut asa tampil di Piala Dunia. Hasilnya empat gol dari Tim Gajah Putih hanya berbalas dua dari skuat Garuda. Kemenangan belum juga menghampiri di laga kedua. Melawan tuan rumah Filipina, Indonesia hanya sanggup bermain imbamg 2-2. Bayangan mengakhiri turnamen lebih cepat layaknya tahun 2007, 2012 dan tahun 2014 pun menghantui, karena nasib Indonesia tak hanya ditentukan keringat sendiri, tetapi juga keringat para pemain Filipina dan Thailand. Skor 2-1 untuk Indonesia menjadi penghias papan skor Rizal Memorial Stadium dan kemenangan 1-0 Thailand membuat Indonesia lolos ke babak empat besar.

Konsekuensi menjadi peringkat dua grup, membuat timnas harus bersua juara grup B, tim kuat Vietnam. Indonesia berhasil mengungguli tim Negeri Paman Ho dengan keunggulan agregat 4-3 dengan diwarnai penalti kontroversial Vietnam pada leg pertama, kartu merah untuk penjaga gawang Vietnam, bek Vietnam yang terpaksa menjadi kiper, juga penalti Indonesia yang dibatalkan wasit asal Tingkok, Fu Ming pada leg kedua. Final kembali mempertemukan Indonesia dengan Thailand, yang menang 4-2 di fase grup, yang menang 4-1 di final 2000, dan yang menang adu penalti 4-2 pada 2002.

Sebelum final leg pertama digelar, ada dua fakta unik menyembul ke permukaan. Yang pertama, dalam setiap pertandingan yang dijalani sejak fase grup, Indonesia selalu berhasil mencetak dua gol. Selanjutnya, jika diperhatikan, jumlah gol yang bersarang ke gawang Kurnia Meiga membentuk sebuah pola unik.

vs Thailand 2-4

vs Filipina 2-2

vs Singapura 2-1

vs Vietnam 2-1

vs Vietnam 2-2

vs Thailand ….

Jika melihat skor-skor di atas, Indonesia layak khawatir bin was-was karena pola tersebut akan sempurna andai saat bersua Thailand di final nanti Indonesia kembali menelan kekalahan 2-4. Pada akhirnya, kekhawatiran tersebut tak terbukti, atau setidaknya tertunda karena yang terjadi adalah dua gol kembali dicetak Indonesia dan hanya satu kali Thailand membalas. Hasil yang melambungkan asa seluruh rakyat Indonesia (pendukung Timnas) akan gelar AFF perdana.

Hasil tersebut juga membuat suporter semakin yakin dengan sebuah meme cocoklogi yang banyak beredar  di dunia maya.

sumber: klik gambar

Cili menjuarai Copa America Centenario 2016 setelah mengalahkan Argentina 2-4 lewat adu penalti. Pada laga tersebut, Cili mengenakan jersey merah. Dua minggu berselang, tim ber-jersey merah lain berhasil mengangkat trofi. Portugal sukses mendapatkan gelar Piala Eropa perdana usai memupus mimpi Perancis lewat kemenangan 1-0. Kesamaan lain, jersey lawan yang mereka kalahkan sama-sama memiliki nuansa biru.

Keyakinan yang semakin berlipat saat Andik ditarik keluar karena cedera pada menit ke 19, karena momen tersebut mirip dengan apa yang dialami Cristiano Ronaldo pada final Juli silam. Selain itu, Indonesia lagi-lagi “diuntungkan” sebuah cocoklogi seorang Teerasil Dangda. Penyerang Tahiland yang pernah bermain di La Liga tersebut memiliki mitos yang unik namun tak mengenakkan. Tiap kali ia menjadi top skor turnamen, negaranya selalu gagal menjadi juara. Hal itu dibuktikan dua kali, tahun 2008 dan 2012. Pada gelaran 2014, saat Dangda tak ikut serta lantaran dak diberi izin klubnya, Almeria, Thailand justru sukses menjadi juara.

Hingga usai laga final leg pertama ini, Dangda patut was-was karena menjadi kandidat kuat peraih top skor dengan koleksi 6 gol, dimana 4 gol diantaranya dicetak ke gawang Indonesia. Pesaing terdekatnya, rekan setimnya Sarawut Masuk dan lawannya di Final, Boaz Solossa, sama-sama baru mencetak 3 gol. Kecil harapan Boaz dan Masuk untuk menyalip jumlah gol Dangda, walaupun kemungkinan itu ada.

Namun, terkait cocoklogi tim jersey merah meraih gelar juara, Indonesia lagi-lagi pantas khawatir. Leg pertama dengan jersey merah memang sukses dilewati dengan kemenangan 2-1. Lawannya pun mengenakan jersey biru, sama seperti Argentina dan Perancis. Namun, kemenangan itu belum berarti apa-apa mengingat partai final piala AFF ini menggunakan format kandang tandang. Kekhawatiran muncul dari laman wikipedia 2016 AFF Championship Final. Pada laman tersebut ditunjukkan, laga leg kedua di Rajamangala Stadium nanti, tim tuan rumah akan mengenakan jersey merah, sedangkan Timnas Indonesia sendiri akan ber-jersey putih.

Bagaimana? Sudah khawatir? kalau belum masih ada satu hal yang menjadi sebab kekhawatiran timnas Indonesia dalam usahanya meraih gelar AFF perdana. Kembali pada perkara pola kemasukan gol Indonesia dari fase grup. Indonesia yang “harusnya” kalah 2-4 saat itu, nyatanya menang 2-1. Namun lagi-lagi perlu diingat, ini adalah Piala AFF, yang finalnya berformat kandang tandang. Yang artinya, laga di Pakansari kemarin dan di Rajamangala nanti statusnya sama. Sama-sama berlabel final. Artinya, pola skor masih memiliki kemungkinan untuk membentuk pola yang sempurna, yakni 2-4. Kemungkinan tersebut dapat terealisasi andai pada laga nanti, tuan rumah Thailand mengalahkan Indonesia tiga gol tanpa balas. Jika hal itu terjadi, “kebiasaan” Indonesia mencetak dua gol per laga terhenti, cocoklogi juara jersey merah terbukti (untuk Thailand), dan Teerasil Dangda (kemungkinan besar) akan mengawinkan gelar top skor dan gelar juara.

Jadi, masih mau berharap kepada cocoklogi?

Komentar