Bapak-Bapak Yang Tidak Seperti Bapak-Bapak

Ada gula ada semut, dimana ada komunitas atau perkumpulan, maka lahirlah grup WhatsApp baru. Sejak petak-petak rumah di komplek ramai penghuni, sejak saat itu pula sering diadakan pertemuan antar warga. Tujuan dari pertemuan  tersebut, yang utama yang pernah saya ikuti adalah pemilihan pengurus sub-RT (semacam RT anak bawang yang masih menginduk ke RT yang asli), tentang keamanan dan kebersihan komplek.

Karena hampir semua bapak-bapak di komplek bekerja, tak semua masalah bisa diselesaikan dengan pertemuan. Akhirnya dibuatlah grup BBM berisi bapak-bapak komplek. Status saya di grup itu sebagai silent reader. Atau kadang-kadang ikut nimbrung kalau lagi butuh :D. Karena grup di BBM tidak simple, maka setelah beberapa bulan berjalan, grup bapak-bapak tersebut pindah ke WhatsApp. Di grup WhatsApp ini, peran saya ada dua, yaitu membalas chat dengan ‘Aamiin’ setiap ada anggota grup yang membagikan motivasi hasil salin tempel dari grup sebelah, dan mengirim emoji ‘-_-‘ tiap ada yang membagikan jokes om-om (emoji yang tak jadi saya kirimkan demi menjaga eksistensi saya di grup tersebut).

20 September 2016, Garut diterpa bencana. Daerah yang sempat dipimpin oleh Aceng Fikri ini dihantam banjir besar. Banyak korban jiwa akibat bencana ini. Juga tak sedikit rumah warga banyak yang rusak. Dalam kondisi bencana seperti ini, grup WhatsApp bapak-bapak tersebut berasa menjadi grup kumpulan media. Semua berlomba-lomba menjadi yang pertama menyampaikan informasi. Jika informasi yang dibagikan masih sebatas jumlah korban terkini, informasi bantuan, atau doa berantai untuk yang tertimpa bencana saya masih maklum. Namun, para member grup tersebut dengan entengnya membagikan gambar-gambar yang tak patut dibagikan.

screenshot_2016-10-06-13-36-48

Gambar yang diblur itu yang saya maksud. Saya blur dengan tujuan untuk belajar seperti judul tulisan ini, tanpa kata tidak. Tentunya.

2 thoughts on “Bapak-Bapak Yang Tidak Seperti Bapak-Bapak

Komentar