Bapak Presiden

sumber: klik gambar
sumber: klik gambar

Beberapa hari yang lalu, tak sengaja saya melihat acara Sarah Sechan di NET TV. Dalam episode tersebut, Sarah Sechan, si pembawa acara (iya lah, masa iya acaranya Sarah Sechan, hostnya Elly Sugigi) berbincang dengan tamunya, seorang penyanyi muda, Calvin Jeremy. Calvin bercertia tentang pengalamannya mencari jaket bomber yang mendadak populer setelah dipakai oleh Jokowi* dalam sebuah pidato.

Bukan jaket bombernya yang ingin saya singgung di sini, melainkan bagaimana Sarah Sechan memanggil seorang kepala negara (dalam hal ini Jokowi) dengan sebutan Bapak Presiden. Jarang sekali saya mendengar panggilan seperti itu untuk seorang kepala negara. Di media-media online, yang jamak saya temukan panggilan untuk kepala negara adalah Presiden Jokowi, atau hanya Jokowi, termasuk Calvin Jeremy sendiri. 

Tak salah, karena selama ini Jokowi, yang memiliki nama lengkap Joko Widodo, menggunakan nama alias Jokowi sebagai “nama panggung” agar lebih mudah diingat di masyarakat. Terutama saat masa kampanye yang ngetren dengan nama-nama berbau singkatan, atau nama yang gampang diingat. Seperti SBY untuk Susilo Bambang Yudhoyono, JK untuk Jusuf Kalla, ARB untuk Aburizal Bakrie, Ahok untuk Basuki Tjahaja Purnama, dan Lulung untuk Abraham Lunggana.

Meskipun begitu, pilihan Sarah Sechan untuk menggunakan kata Bapak Presiden untuk panggilan kepala negara patut mendapat apresiasi. Karena diluar sana, ada yang masih kebingungan dalan menentukan panggilan. “Ingin saya katakan an*ing, tapi tidak boleh. Ingin saya katakan b*bi, tapi tidak boleh”, katanya.

Siapa coba?

8 thoughts on “Bapak Presiden

  1. Pada forum resmi apalagi disaksikan khalayak ramai sebagai penghormatan atas pemimpin memanglah sudah sepantasnya kita panggil Bapak Presiden. Ada hal yang tidak berkenan dengan presiden jangan sampai memakai kata yang merendahkan, apalagi mencaci maki yang gak pantas. Apa yang keluar dari mulut seseorang menggambarkan dirinya.

Komentar