Begituya Bandung

Entah ada apa dengan Stand Up comedy Kota Bandung, Kampus IFI, dan trio Tama Randy, Guzman Sige, Kamal Ocon. Tiga kali saya menonton stand up spesial yang diadakan di Bandung, selalu mengambil tempat di kampus IFI. Openernya bergantian dari tiga orang yang saya sebut di atas. Gilang Bhaskara memakai ketiganya, Adriano Qalbi memakai Guzman dan Kamal, teranyar, Kukuh memercayakan pada Guzman dan Tama. Kok bisa begituya?

Kali ini saya mendatangi kampus IFI dengan kondisi beberapa bagian sedang direnovasi. Setelah menukar tiket dan menunggu beberapa saat, pintu dibuka dan alunan musik dari Kenny G menyambut kami para penonton. Saya menempati posisi yang sama saat menonton #NotSoSpesial, kursi paling depan. Nyaris semua kursi terisi, hanyavbarisan palingbdepan menyisakan beberapa kursi tak bertuan. Kok bisa begituya?

Karena bekerja sama dengan Majelis Lucu Indonesia, duet Muslim dan Coki didapuk menjadi pembawa acara. Duet stand up comedian paling gila. Bisa dibilang, semua kata yang keluar dari mulut mereka itu punchline. Sejenak saya lupa bahwa mereka itu host, bukan opener. Namun, jika ada pertanyaan siapa yang bisa mengalahkan mereka, jawabannya adalah penonton iseng yang merekam dan mengupload ke dunia maya. Habislah mereka. Kok bisa begituya?

Tama bertugas menjadi opener pertama. Ini kali kedua saya menonton Tama. Jika pada kesempatan pertama saya tidak membawa ekspektasi apa-apa dan Tama membayarnya, kali ini saya membawa sedikit ekspektasi dan ekspektasi saya terbayar dengan materinya seputar kehidupan keluarga muda. Bit favorit saya tentang beli kondom di indomaret. Kok bisa begituya?

Opener kedua, Gamila Arief. Saya menonton Begituya karena dua hal. Pertama, ingin melihat Kukuh. Tentunya. Kedua, saat melihat opener yamg ditawarkan, ada Gamila Arief. Gamila merupakan istri dari salah satu stand up komedian favorit saya, Pandji Pragiwaksono. Pikir saya, materi yang dibawakan akan ke Pandji-pandjian gitu. Namun, begitu Gamila tampil saya dan 200 an penonton lain terpana dengan tatapan dan senyuman. Ya, hanya itu. Tak ada materi ka Pandji-pandjian, tak ada celotehan absurd seperti di twitter. Saya ulang, hanya tatapan dan senyuman. Saya jadi penasaran, berapa honor Gamila untuk show malam itu. Kok bisa begituya?

Pikir saya, diamnya Gamila itu akan menjadi “makanan” bagi Muslim dan Coki. Nyatanya tidak, mereka hanya “menyicip” sedikit. Porsi terbesar disantap oleh opener terakhir, Guzman. Guzman yang memang membawa persona ngondek, menirukan gerak gerik Gamila dengan bagus, lebih bagus dari Gamila sendiri. Lah. Ini kali ketiga saya menonton Guzman. Setelah dikecewakan di Lo Pikir Lo Keren, kali ini Guzman tampil dengan beberapa materi baru, masih seputar Dayeuhkolot. Kok bisa begituya?

Tibalah pada penampilan yang punya acara, Kukuh Adi. Ini pertama kalinya saya menonton Kukuh Stand Up. Kalau video “Minta digampar” termasuk, berarti dua kali. Hehehe. Melihat Kukuh tampil itu, kalau boleh membandingkan, seperti melihat Ge Pamungkas. Ekspresif. Namun jika diibaratkan Liga Inggris, Ge ini Hull City, Kukuh Manchester City. Saya muter-muter cuma mau bilang “beda kelas”. Hehe. Maaf ya Ge, tapi Angie cantik, kok. Lah. Kok bisa begituya?

Kukuh, menurut pandangan sotoy saya, bukan tipe pendulang tawa yang rapat. Bit-bitnya membuat tertawa, terdiam sejenak, lalu bilang, oh begituya?. Materi ringan macam “mengucapkan terima kasih” pun bisa dia olah sedemikian rupa dan memjadi keren. Kok bisa begituya?

Materi favorit versi saya malam itu adalah “customer service useless” yang membawa Desy menjadi “tersangka” hampir di sepanjang show. Gimmick mba-mba Google translate, apalagi pas bahasa arab itu super bangke. Lol. Kok bisa begituya?

Yang masih jadi pertanyaan saya, lagu yang dibawakan pas opening itu judulnya apa ya? Kok bisa begituya enaknya?

Komentar