Eksmud Dan Bang Kesmod

gojek

Sebut saja namanya Bang Kesmod. Malam-malam ia mengantarkan seorang karyawan yang terlihat seperti eksmud dari kantornya yang berada dibilangan Jakarta Pusat, menuju rumah si eksmud yang berada di Jakarta Selatan. Usai menunaikan tugasnya, si eksmud menyerahkan tiga lembar uang sepuluh ribu kepada Bang Kesmod.

Ada satu yang berkesan dan menancap dari pikiran si eksmud itu. Iseng-iseng sewaktu perjalanan si eksmud tersebut menanyakan kepada Bang Kesmod berapa penghasilan Bang Kesmod si driver Gojek. Betapa terbelalaknya si eksmud itu begitu mengetahui bahwa gaji si Bang Kesmod lebih besar daripada eksmud yang setiap hari duduk dibelakang meja, mengetik pekerjannya didepan komputer. Kadang diomelin bosnya, kadang diomelin oleh client kantornya.

Ia miris mengetahui bahwa pekerjaannya yang ia anggap berat dan bergengsi itu ternyata dibayar lebih murah daripada seorang tukang ojek. Segala bayangannya tentang sukses, tentang kuliahnya di universitas ternama, dan juga fakta bahwa saat ini ia sedang berkuliah lagi, hancur seketika mengetahui bahwa tukang ojek memiliki penghasilan lebih besar dari dirinya.

Kejadian eksmud itu menjadi gambaran nyata dari dunia kerja yang saat ini kita temui. Kesulitan ekonomi yang menyebabkan terjadinya penurunan kinerja dunia korporasi atau mungkin juga terlalu ketatnya persaingan merebutkan posisi pekerjaan menyebabkan harga (atau gaji) dari sebuah posisi menjadi ikut menurun.

Mungkin saja masih banyak orang yang nyaman dengan bekerja didunia korporasi lengkap dengan gaji dan tittlenya. Atau mungkin juga karena didikan orang tua jaman dahulu yang bermental โ€œnyaman saat pensiunโ€. Sehingga memiliki pekerjaan tetap lebih mulia daripada membuka usaha sendiri. Tidak ada yang hina sebenarnya dari membuka usaha sendiri. Tapi faktor gengsi, kenyamanan, dan kemapanan menjadi faktor penyebab orang-orang lebih senang mengantri di bursa kerja, ketimbang berpeluh keringat membangun usaha sendiri.

Beberapa mungkin, ada yang sudah terjebak dalam zona kenyamanan, atau berada dipersimpangan jalan, karena takut nanti tidak bisa menafkahi istri dan anak. Bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi dunia sudah semakin berubah. Bermunculannya startup-startup baru bisa jadi menggambarkan kejengahan akan rakusnya dunia korporasi dalam meraup profit. Munculnya sharing economy adalah gambaran mutlak kejengahan alokasi pembagian hasil dari ekonomi kapitalis yang selama ini menjadi pijakan bagaimana dunia bisnis selama ini dijalankan.

Permasalahannya adalah, beranikah anda bergerak?

PENULIS: FAKHRURROJI HASAN

TWITTER: @ojihasan

Klik gambar jika ingin menulis di #TamuHariRabu

thr

6 thoughts on “Eksmud Dan Bang Kesmod

Komentar