#FootballFriday

ff
sumber: Getty Images

Peluit di tangan Mark Clattenburg berbunyi panjang pada menit ke 120. Yang terjadi setelah itu adalah pesta bagi seluruh rakyat Portugal. Bukan di Lisbon oleh sekumpulan pemain berjuluk generasi emas, melainkan di Saint-Denis oleh sebuah tim dengan bermacam label yang tak elok. Tak pantas juara lah, tim bermodal keberuntungan lah, dan lah lah yang lain.

Tapi, itulah kenyataannya. Apapun label yang melekat, Portugal tetap sang juara. Portugal yang membuka turnamen dengan hasil seri melawan tim debutan berpenduduk tiga ratus ribuan. Portugal yang selama penyisihan tak pernah menang, yang membuat mereka lolos dengan predikat peringkat tiga terbaik, yang akhirnya menjadi keberuntungan karena terhindar dari lawan-lawan kuat di babak gugur. Portugal yang di final kehilangan kapten sejak menit ke 25. Portugal yang dimenangkan oleh pemain yang tersia-sia di tanah Britania.

Dengan peluit panjang itu pula turnamen empat tahunan ini usai. Banyak cerita yang terjadi selama kurng lebih 30 hari penyelenggaraan. Dalam maupun luar lapangan. Senang, sedih, haru sampai lucu.

Di dalam maupun di luar lapangan, Ronaldo adalah magnet. Selalu ada cerita dari mega bintang Real Madrid ini. Bagaimana ia melempar microphone wartawan saat di wawancara, didatangi ngengat, sampai menjadi “pelatih kedua” dalam laga melawan Perancis, lengkap dengan gestur “Fergie time”.

Sebuah turnamen, baik itu Piala Eropa atau Piala Dunia, selain menjadi arena pamer skill, juga menjadi ajang model rambut. Rumania 1998 contohnya. Kala itu, seluruh pemain tampil engan rambut pirang. Atau Ronaldo Lima pada 2002 yang tampil dengan rambut kuncungnya. Hal itu dilakukan karena anaknya sering tertukar antara dia dan Roberto Carlos.

Pada Euro 2016 ini, ada Ricardo Quaresma yang tampil dengan tatanan rambut aneh. Sadar secara skill dan ketenaranm kalah dari CR7, Quaresma beraksi dengan potongan rambut model………….daun (mungkin). Hal serupa dilakukan Ivan Perisic. Bahkan Ivan dua kali turun ke lapangan dengan rambut nyeleneh.

Ozan Tufan membawa cerita lain perihal rambut. Tak ada yang aneh memang dengan model rambut Tufan. Namun, aksinya yang lebih memilih merapikan rambut alih-alih menghadang Luca Modric, yang berujung kekalahan Turki, yang membuatnya banyak jadi perbincangan.

Sudahi masalah rambut, cerita haru muncul di pertandingan Swiss melawan Albania. Elmaze Xhaka, yang tak lain adalah ibu dari Granit Xhaka dan Taulant Xhaka, yang berbeda negara walaupun status mereka adik kakak. Ingin menjadi seorang ibu yang adil, Elmaze datang ke stadion dengan kaos hitam bergambar setengah bendera Swiss dan setengah bendera Albania.

Satu hal yang kurang dari gelaran Euro kali ini mungkin tak ada satupun pemain yang mencetak hattrick.  Mengapa kurang, karena pada turnamen Copa America Centenario, yang kebetulan diselanggarankan bersamaan, Lionel Messi sanggup mencetak tiga gol saat melawan Panama. Ah, tapi lebih baik tak mencetak hattrick daripada tak membayar pajak.

≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡

Bersama tulisan ini, saya luncurkan kategori baru di ganganjanuar.com. Sesuai judul tulisan ini, kategori baru ini bertajuk #FootballFriday. Setelah ini, tulisan-tulisan bertema sepakbola akan hadir pada hari Jumat.

4 thoughts on “#FootballFriday

  1. Saya juga ada mas tentang sepak bola. Tapi juarang. Kecuali klo MU ntar maennya bagus. Sekarang ganti klub lagi gara2 Mou pindah klub ha ha ha……..

Komentar