Gununghalu Dimana?

Truk berisi daun teh yang baru dipetik hilir mudik keluar masuk pabrik menyetorkan hasil kerja para pemetik. Proses paling awal dari teh yang selama ini sampai ke tangan konsumen, dinikmati dalam kemasan tinggal celup. Menjadi seorang pemetik teh bukan pekerjaan yang mudah. Banyak resiko yang harus dihadapi. Satu yang sering saya dengar adalah resiko digigit serangga yang membuat kaki mereka bengkak. Bapak saya juga bekerja di pabrik teh tersebut. Saya tak tahu persis apa jabatannya. Yang saya sering dengar adalah Dia seorang mandor.

Untuk tempat tinggal karyawannya, termasuk keluarga saya, pihak perusahaan menyediakan komplek-komplek yang tersebar tak jauh dari lokasi pabrik. Karyawan tahu betul cara berterima kasih. Mereka merawat komplek hingga tampak sedemikian asri. Elok dipandang mata.

Para santri melompat dari jembatan menceburkan diri ke sungai menjadi pemandangan yang biasa saya lihat saat sore menjelang. Sungai yang dalam memungkinkan mereka melakukan hal itu.  Santri yang menuntut ilmu agama di pesantren yang letaknya tak terlalu jauh dari lokasi pabrik teh. Saya pun mengaji di sana. Tapi, tidak sampai ikut melompat dari jembatan. Jika saya nekad melakukan itu, tak akan bisa saya meneruskan tulisan ini.

Itu sekilas keadaan Gununghalu. Dulu. Kini, keadaannya sudah banyak yang berubah. Setidaknya, itu yang saya lihat jika menyempatkan pulang ke sana. Menurut cerita yang saya dengar dari Bapak saya, kondisi pabrik kian tak menentu. Konon, gaji karyawan beberapa kali telat dibayarkan, termasuk juga Bapak saya. Komplek-komplek tempat tinggal karyawan memang masih ada satu dua yang terawat, tiga empat lima enam tujuhnya mulai tak enak dipandang mata. Yang menarik, ada beberapa karyawan yang saking betahnya tinggal di komplek, sampai lupa saat gerbang pensiun sudah depan mata, mereka tak punya apa-apa. Beruntung, Bapak saya yang tidak temasuk yang terlena. Menjelang pensiun yang tinggal beberapa bulan lagi, sudah memiliki hunian yang walaupun tak mewah, tapi milik sendiri.

Sungai yang menjadi pelepas penat santri tak bisa digunakan seperti dulu. Jika masih berani melompat dari jembatan, orang tuanya mungkin harus mengadakan tahlilan. Karena sungai semakin dangkal. Air yang tenang menjadi beriak. Air beriak, tanda tak dalam. Lalu, invasi Alfamart kini telah menjamah Gununghalu. Seolah tak mau kalah, Indomaret mengikuti rekan benci tapi rindunya tersebut.

Tak ada yang menarik dari lima paragraf yang telah saya tulis. Satu hal yang menarik menurut saya adalah saat orang-orang, entah itu saat dulu sekolah, atau sekarang di tempat kerja, menanyakan dimana kampung halaman saya. Saat saya menjawab Gununghalu, terjadilah percakapan berikut.

“Gununghalu dimana?”

“Tahu Cililin?”

“…”

“Tahu Batujajar?”

“…”

“Tahu Cimareme?”

“Oooooh Cimareme”

“Dari Cimareme jauh lagi”

“Wow”

“……………..”

6 thoughts on “Gununghalu Dimana?

Komentar