Hari Minggu, Dari Kasur Kembali Ke Kasur

mgg

Selepas Shalat Subuh, kasur kembali menjadi destinasi saya dan istri di hari Minggu kemarin. Shaqil masih terlelap dengan dot yang masih menempel di mulut. Sebelum kembali tidur, saya membuka pintu sebentar, suasana masih gelap dan yang membuat saya menyesal membuka pintu adalah…….dingin. Pintu kembali saya kunci, sambil berlalu saya matikan penerangan bagian luar.

Di kamar, istri saya sudah nyaris tenggelam oleh selimut, menyisakan kepala dan tangan yang asyik dengan gawai. Saya perhatikan, recent update BBM yang tampil pada layar 4 inchi. Saya ambil ponsel saya, saya lihat ada beberapa email yang masuk. Hampir semua isinya pemberitahuan tulisan baru dari blog teman-teman yang saya ikuti. Kombinasi gelapnya kamar dan pencahayaan yang hanya datang dari ponsel membuat mata tak kuasa lagi untuk bekerja.

Matahari mulai meninggi saat kami terjaga. Beberapa pekerjaan rumah yang sudah kami rencanakan untuk kerjakan pun terbengkalai. Minggu memang jahat. Istri mencuci piring, sementara saya bertugas mengepel lantai. Hanya itu pekerjaan rumah yang berhasil kami selesaikan.

Saya ambil kembali ponsel dan masuk ke folder berisi media-media sosial. Saya posting foto Shaqil di Path, melihat beberapa postingan teman dan keluar dari aplikasi karena belum ada lagi bahan pamer. Beralih ke Instagram dan memposting foto yang sama seperti di Path, memberi hati pada postingan Raisa dan Dian Sastro, lalu Instagram saya tutup.

Di Twitter saya melihat berita tentang Freddy Budiman. Dan entah kenapa pikiran saya teringat pada sosok Saipul Jamil. Bukan Bang Ipul sebenarnya yang saya ingat. Yang mendadak saya pikirkan adalah bagaimana perasaan keluarga dari (almh) Virginia Anggraini, sang mantan istri. Bagaimana keluarga menerima kenyataan bahwa lelaki yang sempat menjadi pendamping hidup anaknya, kini mendekam di penjara. Lebih perih lagi, Bang Ipul menginap di balik sel karena kasus yang sama sekali tak elok.

Lamunan saya terhenti karena tiba saatnya berangkat memenuhi undangan pesta ulang tahun anak tetangga yang terhalang dua rumah. Pestanya sendiri dihelat di sebuah tempat makan berinisial K*FC. Dan saya kagum dengan Shaqil yang tak takut saat Chaki, maskot KFC muncul memeriahkan acara. Sebetulnya saya tak kaget karena waktu perayaan ulang tahunnya setahun silam, dia berani berdekatan dengan maskot si resto, bukan KFC. Yang membuat saya kaget adalah Shaqil yang kelewat agresif dengan Chaki. Memegang, menarik, mengikuti kemanapun si Chaki pergi, bahkan nangis saat si maskot selesai bertugas dan kembali masuk ruangan. Saya bercerita seperti ini karena tak sedikit anak yang takut dengan maskot dari bermacam resto.

Minggu saya nyatakan usai saat Shalat Isya dan makan malam kami tunaikan. Shaqil, yang kelelahan bermesraan dengan Chaki sudah tidur lebih dulu. Selimut menutup 3/4 raga kami berdua, karena Shaqil paling anti menggunakan selimut, mata terpejam seiring gelapnya kamar.

Pada akhirnya mata terpejam dengan kamar benderang karena tak tahan dengan intimidasi dari nyamuk sialan!

2 thoughts on “Hari Minggu, Dari Kasur Kembali Ke Kasur

Komentar