Hulurasa

SEJARAH (1)

Namaku reto, aku sedang berdiri di depan jurang dan melihat langit untuk melihat kebenaran, tapi apa sebenarnya kebenaran itu.. hanya langit yang aku harapkan bisa menjawabnya.

Ayahku sering berkata, “kebenaran hanya bisa kau rasakan, coba lah untuk melihat dengan hatimu anakku” akupun belum mengerti apa itu. Kebenaran itu terasa sulit dipahami apabila kebenaran itu pahit rasanya.

Saat ku berbalik ke belakang berharap peperangan di desa ku sudah mereda tapi malah terlihat warna merah menyala yang membara menambah keadaan menjadi tak menentu, terdengar teriakan-teriakan, suara ledakan dan percikan percikan cahaya putih yang mewarnai peristiwa itu. Padahal sudah sekitar 500 langkah aku berlari dari desaku tapi masih saja telinga dan mata ini menjadi indra-indra yang membuat suasana malam hari ini sangat mencekam mengalahkan bulan purnama yang terlihat sangat jelas dan hutan lebat yang terbentang mengelilingi desa.

“Tuanku, sebaiknya kita cepat menghindar lebih jauh, hamba takut musuh mengetahui keberadaan kita.”

“Sebenarnya kita mau kemana Haq?”

“Kita ke desa TRIM, di sana ada teman lama ayah mu, Tuan?”

“Baiklah, kita tunggu Ness dulu”

“Tenanglah dia akan baik-baik saja, dia tidak akan mati asalkan tuan selamat, mari kita lanjutkan perjalanan”

“Baiklah”

Tanganku meraih kain yang membalut barang-barang pribadiku dan mulai melangkah mengitari jurang yang memisahkan desaku dengan desa TRIM.

Aku sangat menghormati HAQ dan NESS, mereka adalah PARA PENJAGAKU yang telah menemani ku selama 3th ini, mereka dikenalkan oleh ayahku saat aku umur 15th.

Ayahku berkata, “Reto, kenalkan ini HAQ dan NESS, mereka adalah PENJAGAmu. HAQ dia ahli fikir sedangkan Ness dia ahli pedang ..mereka akan selalu melindungimu jagalah mereka dengan hatimu anakku”.

Aku pun tidak mengetahui umur mereka berapa tapi mereka seperti berumur 30 tahunan. Orang bilang wajah mereka agak mirip dengan ku tapi yang jelas bukan adik atau kakak kandungku, mereka terlihat gagah dan berwibawa, aku sangat nyaman berada dekat dengan nya.

Sementara itu suasana desa sangat mencekam, terlihat seorang berambut putih panjang bergerak kesana kemari dengan sebuah tombak emas bersinar putih menyilaukan mata yang memandangnya tengah dikerumuni oleh puluhan semacam makhluk buruk rupa yang terlihat sangat kuat dan lincah tapi mereka terlihat kewalahan melawan laki-laki yang berumur sekitar 50 tahun tersebut, tidak sedikit dari mereka terluka dan terbunuh oleh sabetan atau tusukan tombaknya .

Di dekat tetua tersebut terlihat 4 orang ahli tengah bertarung dengan kondisi yang serupa hanya saja masing masing berbeda senjata. Mereka semua bertarung sangat dahsyat dengan senjata yang bercahaya dan diselimuti aura yang berwarna warni dengan dominasi warna putih menyilaukan. Banyak sekali pertarungan di desa tersebut tapi hanya beberapa yang masih bertahan termasuk tetua dan ke empat ahli tersebut.

“Saudaraku bertahanlah ” teriak salah satu ahli tersebut yang ditujukan kepada tetua tersebut.

“Mereka terlalu banyak, SALO, mari kita lindungi Dia” “Benar BURE” kedua ahli tersebut meloncat mendekati tetua tersebut untuk melindunginya.

“MANU, GAAL cepat lindungi Maduka” teriak SALO.

“Baiklah” “baiklah”.

Ternyata tetua itu bernama MADUKA, dia mengenakan jirah perang yang bercahayakan emas dan memakai pelindung kepala menyerupai mahkota raja sedangkan para ahli yang melindunginya itu para ksatria berjubah putih bersinar terang, hanya terlihat kelebatan putih bercahaya membentuk manusia saja apabila dilihat kasat mata karena mereka bergerak begitu cepat dalam pertarungan.

Lalu terdengar teriakan lantang tidak jauh dari daerah pertarungan dengan berpakaian bak seorang pangeran, bertubuh tinggi besar dan penuh dengan bulu wajahnya yang seperti babi itu tampak marah dan emosi, “biarkan para HULURASA itu, serang MADUKA, cepat semua serang!!!”

“Baiklah jendral, SERAAAAANG!!!”

Serentak puluhan makhluk beralih menyerang ke satu orang yaitu MADUKA, dia adalah seorang pemimpin desa yang sangat dihargai dan dihormati oleh penduduk desa karena mempunya ilmu yang sangat dasyat.

“Saudaraku mungkin ini saatnya untuk menyatukan para HULURASA”, tutur SALO

“Sepertinya begitu, tapi lindungi jasadku SALO” jawab maduka

“Percayalah kita semua satu saudaraku” SALO tersenyum

“Lindungi MADUKA, kita akan bersatu” teriak SALO

Terlihat 4 ahli tersebut membuat ruang agar Maduka bisa berkonsentrasi, dan tak lama kemudian timbul pusaran angin menyatu dengan cahaya putih bersinar terang mengitari Maduka, cahaya menyilaukan putih itu adalah para 4 ahli yang berputar putar kencang sehingga menghantam para makhluk di sekitar Maduka dengan jarak 2 meter.

“Mundur semua!!”, teriak sang jendral di atas kuda perangnya

“Dasar berengsek!!”.

Tidak ada yang bisa mendekati pertarungan antara Maduka dengan para makhluk buruk rupa tersebut karena dalam jarak 10 meter banyak pohon-pohon tumbang dan terbelah, batu-batu hancur, kerikil berterbangan.

Tak lama kemudian terlihatlah seorang sosok cahaya yang berdiri didepan Maduka tanpa membawa senjata dan berkata,

“Tenanglah saudaraku, konsentrasilah “

Maduka tersenyum sambil mata terpejam.

Sementara itu Reto sedang berjalan menelusuri pepohonan besar dengan susah payah, dirasakannya hutan itu sangat berat untuk dilewati.

Dia hanya seorang anak dari keluarga terpandang di desanya, bukan seorang ahli atau petarung sehingga perjalanan itu terasa sangat lama dan melelahkan.

“Tuan, bertahanlah dan berhati-hatilah dalam melangkah”.

“Iya, HAQ”

“Kita akan sampai di desa TRIM esok pagi “.

“Aku harap semua baik baik saja,aku lihat desa kita terbakar “.

“Penduduk desa sedang dalam pengawalan NESS, Tuan, mudah-mudahan sudah sampai ke tempat tujuan”, balas HAQ dengan melihat kebelakang dan berhenti sesaat.

“Kenapa aku tidak diungsikan ke tempat yang sama HAQ?” Reto pun berhenti dan melihat kebelakang seraya arah pandangan yang sama dengan yang dipandang HAQ.

HAQ pun beralih menatap reto dengan pandangan yang dalam dan berkata”, ini adalah perintah ayahmu, Tuan, kelak Tuan akan mengerti, waktu yang akan menjawabnya”.

HAQ pun kembali melanjutkan langkahnya sedangkan reto masih termenung mendengar jawaban itu.

“Sebenarnya ada apa tentang semua ini”, Reto mengatakan dalam hati.

“Ayo Tuan, kita lanjutkan perjalanan”, pinta HAQ dengan nada halus.

Aku pun melanjutkan perjalan dengan penuh tanya akan apa yang sedang terjadi.

Aku seorang anak yang terlahir di keluarga dengan penuh kesibukan, aku pun tidak terlalu mengerti apa dan sebagai apa pekerjaan orangtua ku, setiap hari selalu ada tamu yang mengunjungi kediamanku dan yang jelas siapapun yang mengunjungi kediamanku bukan orang biasa. Tak jarang datang dengan rombongan besar, kalaupun hanya satu orang tapi dia adalah seorang pendekar atau seorang utusan, semua itu bisa dilihat dengan mudah dari pakaian yang dipakainya.

Ayahku bernama MADUKA sedangkan ibuku bernama SOKHA, aku adalah anak semata wayang mereka, dan disinilah aku bergerak diantara takdir yang tergaris dalam kehidupanku.

Dan ini lah awal dari kisahku …..

bersambung……..

PENULIS: HENDRAWAN

EMAIL: wpkclsx2@yahoo.com

thr

Komentar