I Gusti Ngurah Rai yang Kesepian

Siang itu saya salat dzuhur agak telat. Tapi, karena telat tersebut saya jadi membuktikan satu anggapan yang beredar di masyarakat tentang uang. 

13.50 saya baru salat dzuhur, di mushola tempat saya bekerja. Kebetulan, yang menjadi imam saat itu salah satu pengurus mushola. Usai salat, saya pindah ke pojokan buat “ngelurusin kaki” sebelum kembali bekerja. Tak lama si pengurus mushola ikut ke pojokan sambil membawa kotak amal. 

Saya dimintai tolong menghitung uang yang terkumpul dalam kotak tersebut. Saya mulai dengan pecahan sepuluh ribu. Cukup banyak Sultan Mahmud Badaruddin II dalam kotak tersebut, bersanding dengan suksesornya, pahlawan yang sempat dihebohkan netijen, Frans Kaisiepo.

Selesai berurusan dengan Sultan Mahmud dan Frans, saya lanjut mengumpulkan Pangeran Antasari, yang tanpa kejutan, jumlahnya jauh lebih banyak dari kedua pahlawan sebelumnya. Dari yang masih bersih, sampai yang sudah tak terhitung sudah berapa kali ikut masuk ke dalam mesin cuci. 

Otto Iskandar Dinata, walaupun tak seramai Pangeran Antasari, masih memiliki teman dalam kotak tersebut. Yang paling kasihan, sesuai judul tulisan ini, I Gusti Ngurah Rai benar-benar kesepian. Tanpa teman, sendiri melawan sepi. 

Berarti, anggapan bahwa uang 50 ribu tak berarti jika dibawa ke mall, namun sangat berharga saat berada di mesjid itu benar adanya. 

Sebagai penutup, tolong jangan tanyakan keberadaan duet Soekarno Hatta. 

12 thoughts on “I Gusti Ngurah Rai yang Kesepian

Komentar