Jalan Berliku Menuju Kabut Salju

IMG_20160214_125957

Warkop Modjok menjadi tujuan awal kami bertiga dalam rangka menghabiskan hari Minggu. Karena sudah mengantongi alamat yang dituju, yakni di areal Perumahan Pondok Hijau Indah, kami tak terlalu buru-buru saat menuju kesana. Dalam angan, sudah terbayang menu-menu yang disediakan. Menu yang biasa-biasa saja sebenarnya, hanya perpaduan dengan cuaca Ledeng yang sejuk yang membuatnya nikmat.

Namun, angan itu seketika sirna saat kami tiba. Warung yang berukuran kecil telah ramai pengunjung. Kalau saat itu tak membawa serta Shaqil, kami akan memaksakan untuk tetap makan di tempat itu. Dengan kecewa, kami keluar areal perumahan Pondok Hijau Indah, menepi, dan mencari alternatif tempat makan lain. Yang ramah untuk anak dengan harga yang manusiawi, PASTINYA.

Setelah browsing, kami sepakat untuk merapat ke Secret Garden. Melihat ulasan-ulasan di internet, rasanya tempat tersebut cocok untuk kami bertiga. Tanpa basa-basi, saya memacu Scoopy menuju daerah Ciumbuleuit. Melewati Universitas Parahyangan, kami serasa jalan-jalan ke Tiongkok, dimana banyak lalu lalang mahasiswi bermata sipit dan paha putih. Dibantu Google Maps, kami sampai di tempat tujuan. Kami sempat heran saat melihat bangunan yang mirip dengan kami cari saat nengetikkan kata “Secret Garden” di internet. Namun karena banguan tersebut sepi tak terurus, kami lewati tempat itu sambil terus mencari diiringi kebingungan. Di tengah kebingungan, kami berhenti untuk kembali mengecek Google Maps. Lokasi terakhir dan lokasi tujuan jaraknya berdekatan yang artinya kami sudah (nyaris) sampai, tapi tak terlihat tanda-tanda keberadaan Secret Garden. Tiba-tiba ada seorang bapak mendekat dan berbaik hati membantu kami.

“Mau kemana Dek?”

“Ke Secret Garden, Pak.”

“Bapak Tahu?”

“Oh Secret Garden, itu yang di atas yang ada lampu penerangannya”

Beliau menujukkan tempat yang tadi kami lewati.

“Tapi udah lama tutup Dek”

“Oh Gitu ya Pak, yaudah makasih, Pak.”

“Sama-sama, Dek”

Informasi dari Bapak tesebut membuat saya sedih, sedih sekaligus senang. Sedih karena masih harus menahan lapar, sedih lagi karena saya tak melihat tanggal dari ulasan-ulasan yang saya cari di internet, senang karena Bapak tersebut nggak nawarin MLM. Kami cari lagi tempat makan lain dengan dua parameter utama, nyaman buat anak dan MURAH. Pilihan jatuh pada Warung Segood yang berlokasi di Cihampelas. Sesampainya di sana, kami agak ragu untuk tetap makan di tempat ini, karena tampaknya kafe ini baru buka, terlihat dari pelayannya yang masih sibuk sikap lilin membersihkan meja. Kami singkirkan keraguan dan tetap masuk ke dalam. Kami menuju tempat di ujung yang saya pikir nyaman untuk anak. Namun niat kami terhalang regulasi yang mengharuskan tempat tersebut minimal dihuni empat orang.

Kebingungan kembali melanda. Memutuskan duduk namun Shaqil terlihat tak nyaman, atau pergi, tapi bingung dan gak enak sama pelayannya. Akhirnya kami memesan menu agar kami bisa pergi tanpa tangan kosong. Istri saya memanggil pelayan dan memesan salah satu menu yang tersedia. Dan leganya kami saat tahu bahwa menu tersebut dibuatnya lama. Itulah yang kami jadikan alasan untuk cepat-cepat pergi dan mencari tempat lain.

Ditengah pilihan yang semakin menyempit, Bandung yang semakin memanas, dan Tukang Bubur Naik Haji yang tak kunjung tamat, kami putuskan untuk menuju ke Kabut Salju. Jaraknya cukup jauh dari Warung Segood ini, di Jalan Van De Venter no. 4 (area Veteran). Memasuki daerah Van De Venter, kami disambut lingkungan yang cukup sejuk dengan pepohonan di kedua sisi jalan.

Sambil menunggu pesanan datang, kami manfaatkan waktu untuk………..apalagi kalau bukan foto-foto. Kabut Salju ini memiliki tempat yang tak terlalu besar, yang untungnya terbantu oleh keberadaan sebuah tempat kursus, sehingga dapat digunakan kalau-kalau tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya menu yang kami pesan datang. Menu yang harusnya dapat dinikmati tanpa harus memutar ke Ledeng, Ciumbuleuit hingga Cihampelas.

4 thoughts on “Jalan Berliku Menuju Kabut Salju

Komentar