Ketika Menjadi Dewasa, Jatuh Cinta Ataukah Jatuh Hati?

love-1530122_1280

Menjadi single atau bahkan bisa dibilang single tulen (ibu saya sangat melarang menggunakan istilah Jo**lo , karena menurutnya istilah atau penggunaan kata itu seperti doa atau boleh dikatakan sebuah curse bagi seorang untuk tidak berpasangan atau dengan kata lain “Gak laku-laku neyh yeee”) amat tidak mudah. Tidak mudah disini maksudnya ialah, tidak mudah membuat seorang mengenalkan diri lebih dalam untuk sebuah hubungan khusus, atau juga bisa dibilang memiliki pengetahuan dan keahlian untuk bisa memulai sebuah rancangan modus-modus dalam rangka menggaet idaman hati, too complicated? Euuuh we’ll see.

Disamping itu, seperti yang akhirnya saya rasakan sekarang, seiring bertambahnya usia, bertambahnya pula beban pikiran dan capaian-capaian yang lebih serius, yang pada akhirnya melupakan masalah asmara, dimana asmara dan proses interaksi atau hubungan dengan seorang yang spesial ialah hal yang seharusnya menjadi bagian atau tahap pencapaian diri atau juga pelajaran kehidupan yang alami. “Ah kamu saja yang terlalu serius menanggapi semua terlalu naif”. Ah, saya rasa tidak juga. Saya menganggap fase dimana kita menyukai lawan jenis ialah seatu kewajaran ketikapun masih dalam usia sebelum remaja, apalagi setelah remaja. Dulu saat masih remaja energi yang dirasakan ketika kasmaran atau menyukai seseorang rasanya luar biasa, lupa segalanya, lupa makan, lupa belajar tapi nggak juga sih buat lupa buang hajat. Dan merasakan kasmaran di saat muda amat penting, kenapa?. Ya, setelah dewasa kadang semakin membingungkan antara mana kasmaran mana nafsu atau emosi. Saat muda saya kira kasmaran atau cinta monyet benar-benar pure perasaan jatuh cinta. Tapi ketika sudah dewasa, seiring bertambahnya wawasan, pengalaman, akal sehat, iman dan taqwa, dan yang terakhir “pilihan hidup”. Rasa kasmaran semakin membingungkan, mana nafsu, mana yang memang benar-benar perasaan jatuh cinta. 

Saya mengklasifikasikan rasa suka atau menyukai menjadi beberapa jenis; 1. Menyukai 2. Bernafsu 3. Penasaran 4. Mengagumi 5. Merasakan dan yang terakhir 6. Mendambakan

Menyukai, menyukai bisa karena memang kamu suka dengan segala hal seorang yang disukai. Entah dari wajahnya, senyumnya, bicaranya, dan segala sesuatu darinya. Menyukai berbeda dengan beberapa hal yang lain saya sebutkan. Menyukai sederhana, menyukai sesuatu entah itu satu atau beberapa hal dari si dia. Dan itu sangat sederhana, tidak bisa didefinisikan tapi sangat bisa dirasakan.

Bernafsu, eeuhm, oke kamu boleh menafsirkan negatif atau biasa saja. Tapi yang jelas, bernafsu memiliki implikasi hormon dan rangsangan indra. Tapi disini tentu saja kita tidak bisa mengejawantahkan bernafsu tidak ada unsur cinta. Kenapa? Karena kadang nafsu dan cinta menjadi sebuah hal yang tidak bisa dipisahkan. Desire on the action, kita beraksi karena kita memiliki hasrat. Yah, jika kita tidak berhasrat tentunya kita tidak bisa atuh untuk merasakan energi untuk memulai. Oke, disini kenapa saya menggunakan kata nafsu, karena beberapa orang dewasa kadang memilih pasangan karena berdasar hasrat indra dan alam bawah sadar mereka dimana fisik dan suatu hal yang ia rasakan berasal dari alam bawah sadar ia ialah segalanya. Sensasi dari dalam bawah sadar bisa terjadi karena memang alami berasal dari gen dan naluri dasar dia (kriteria bawaan/selera). Tapi alam bawah sadar ataupun alam sadar kita dapat terbentuk atau terpengaruhi dari terpaan-terpaan dari lingkungan sehari-hari atau informasi dari media atau hal-hal lain yang kita konsumsi.

Contohnya, seorang lelaki menyukai atau memiliki kriteria seorang wanita yang bermata sipit plus imut-imut layaknya girlband korea. Mungkin bisa jadi ia sering melihat film-film korea yang akhirnya menjadikan ia sangat menginginkan wanita pilihannya sesuai dengan ekspektasi indra. Contoh yang kedua ialah, umumnya pria Indonesia mengidam-idamkan wanita yang berbadan ideal, berwajah manis, dan berperangai anggun. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena pada umumnya para pria mengadopsi kriteria cantik sesuai dengan terpaan informasi wanita-wanita cantik itu dari media-media yang ia konsumsi. Tapi pada kenyatannya kriteria wanita cantik dari para kaum lelaki amat beragam. Bisa jadi ia menyukai wanita gemuk, ia berkulit hitam manis, ia yang berkacamata, ia yang tomboy dan masih banyak lagi. So, ketika dewasa, bernafsu itu paling memiliki banyak variabel. Saya bisa sebutkan itu normal, karena kadar testosteron lelaki lebih banyak dari wanita.

Penasaran, penasaran sering berkaitan dengan alam bawah sadar, bisa jadi penyebebnya karena variabel diatas atau bisa jadi karena beberapa pengalaman-pengalaman atau hasrat-hasrat tertentu yang belum ia penuhi. Eitts tunggu, ini bukan penasaran karena nafsu dari hormon-hormon, tapi bisa jadi karena emosi yang terpendam yang pada akhirnya menahan perasaan dan meblokade keterbukaan untuk hal-hal yang baru. Oke lets says, cinta mati. Cinta mati memang sah-sah saja tapi juga harus diingat apakan cinta mati kamu itu tidak bertepuk sebelah tangan, atau apakah kamu yakin akan menunggu seorang yang kamu sukai itu berbalik hati memberikan balasan yang layak untuk kamu?. Yah, gaiz.. hati-hati bisa jadi itu rasa penasaran. Menyukai karena penasaran? Okey, why not. Bisa jadi memang itu jodoh kamu.

Mengagumi, bagi pria dewasa mengagumi bisa menjadi sebuah kriteria suka, tapi juga bisa menjadi perasaan yang sesaat dan bukan cinta. Mengagumi ialah rasa menyukai tanpa ada dorongan hasrat seksual atau bahkan sebenarnya tanpa ada perasaan. Kadang memang bagi orang dewasa antara mengagumi, menyukai dan mendambkan amat berbeda tipis sekali. Disini pria dewasa harus bisa mengenal betul apa perasaan yang sebenarnya. Okey lets says, kamu kagum sekali terhadap rekan kerja kamu karena perangainya yang manis, kinerja yang baik dan religiusnya yang tinggi. Dan seperti yang kamu bisa tebak, kamu pasti kagum. Nah untuk bisa membedakan mana rasa suka, mendambakan, dan kekaguman, kita bisa lihat dari komposisi hati dan perasaan, dan bagi pria logika pun biasanya menjadi teman yang bisa dipercaya. Kagum bukan berati cinta, dan cinta bukan berarti harus berasal dari rasa kagum, medambakan tidak selalu berasal dari kekaguman, orang yang kita kagumi tidak bisa diatikan orang yang kita dambakan. Kekaguman hanya menggunakan indra dan nalar. Tidak dari hati yang terdalam ataupun hormon yang menjadikan kita menggilai diluar nalar. Kamu setuju?.

Mendambakan, nah ini yang sering menjadi para single-single betah berlama-lama dengan statusnya, mendambakan seorang memang penting tapi mendambakan tanpa kita bisa berinteraksi utnuk dapat mengenal dan berinteraksi lebih luas dengan banyak wanita, tentu saja seperti layaknya mendambakan punguk merindukan rembulan. Untuk pria dewasa mendambakan menjadi hal yang penting. Karena mendambkan berkaitan dengan sebuah pilihan. Dan pilihan itu didasari oleh berbagai macam perhitungan. Tapi untuk kamu yang mungkin masih belum mencapai sebuah alasan-alasan untuk memilih pasangan hidup. Saya kira mendambakan, adalah seatu fase yang tidak perlu diambil. Mendambakan selalu berkaitan dengan pilihan-pilihan yang menjadikan seatu proyeksi kesempurnaan. Bagi pria dewasa memilih wanita yang ia dambakan pada akhirnya tidak selalu sempurna kok, apalagi kamu yang mungkin masih baru mengenal apa yang namanya jatuh cinta atau bahkan mengenal wanita. Seiring berjalannya waktu kamu akan tahu mendambakan akan berubah menjadi sebuah pilihan.

Merasakan, at least kita bicara merasakan. Ini yang paling memiliki kuasa, jatuh cinta pada pandangan pertama, cinta lokasi, cinta karena kondisi, LDR, undefenicial condition, dan berbagai istilah yang menggantikan merasakan, merasakan seseutu yang berbeda. Merasakan tidak karena hormon yang mengalir deras karena sensasi indrawi, merasakan bukan berasal dari nalar dan logika, merasakan bukan dari sebuah list kriteria wanita idaman, merasakan bukan dari sensasi kepuasan diri karena sebuah ambisi, ego dan emosi. Merasakan tidak pernah bisa dedefinisikan, ia mengalir apa adanya, ia tumbuh dan berkembang secara alami entah dari ransangan indrawi atau nalar pikiran. Yah merasakan sesuatu yang berbeda, merasakan sebuah sensasi yang luar biasa, teristimewa di hati, di pikiran di ingatan atau bahkan dalam mimpi tidur. Ia kadang bisa menjadi hantu gentayangan yang berbisik kepada telinga dan hati. Merasakan seperti hilang akal sehat, tidak bisa dilepaskan dan tidak bisa dihilangkan. Ia mengalir apa adanya atau bahkan ia bisa menjadi sangat explosive hingga mengacaukan pikiran. Tapi ia berjalan amat lebut dan bisa mengajak kita menari-nari dalam sebuah sensasi keindahan, kenyamanan, dan kebahagian yang tidak bisa didefinisikan. Yah, merasakan jatuh cinta.

Penulis: Khairil Imam

Twitter: @ka_hairil

Instagram: @ka_hairil

Ingin menulis di #TamuHariRabu? Klik gambar di bawah ini

Tamu Hari Rabu

Komentar