Menjadi Sampah

Foto: Mochammad Andi Nurfauzi

Hari ini saya ikut menghadiri sebuah dialog yang diadakan oleh salah satu NGO lokal untuk kebutuhan programnya. Dialog tersebut dihadiri oleh beberapa staff dari dua NGO yang berbeda, PD Kebersihan dan bapak pengangkut sampah yang berjumlah 9 orang.

Saya tertarik ketika menyimak “suara-suara” yang dikemukakan oleh bapak petugas pengangkut sampah yang tersebar di beberapa RW dalam satu kelurahan. Perasaan-perasaan yang diungkapkan terkadang tidak terfikir oleh kita sebagai pemilik rumah atau lebih baik kita bilang sebagai pemilik sampah-sampah.

Mungkin tertarik membaca yang ini: Eksmud Dan Bang Kesmod

Oh iya, bagi saya, ini adalah kali pertama untuk terlibat dalam organisasi yang menangani isu terkait sampah. Akhirnya dalam dialog bersama bapak petugas pengangkut sampah tersebut, saya merasa larut dalam memaknai opini atau perasaan-perasaan yang diungkapkan oleh bapak-bapak petugas pengangkut sampah, karena itu berkaitan dengan kebiasaan diri saya yang masih tidak memperhatikan para pengangkut sampah di lingkungan saya, terkadang saya masih seenaknya memasukan bekas tusuk sate kedalam tumpukan sampah yang lainnya, atau bekas pecahan gelas dan kaca dengan memasukan langsung bersamaan dengan sampah-sampah tadi, tanpa memikirkan proses pengangkutan yang dilakukan dengan tangan-tangan para petugas pengangkut sampah apakah itu nantinya akan melukai tangan-tangan pemulung atau petugas pengangkut sampah. Atau lebih jauhnya, saya terkadang tidak memperhatikan nominal iuran sampah, paling-paling goceng atau kalo bulan depan naik, biasanya dan bisanya protes “naha naek gening pak?”, kemudian darimana asal muasal bayaran untuk para petugas pengangkut sampah, karena yang terpenting, sampah di rumah saya sudah dibuang atau bukan dibuang tapi dipindahkan ke TPS (barangkali halusnya seperti itu) bukan bagaimana caranya agar tidak ada sampah di rumah saya.

Pemikiran itu muncul karena munculnya “suara-suara” dari bapak petugas sampah dalam dialog hari ini, yang menjelaskan bahwa mereka terkadang tangannya terluka tertusuk bekas tusuk sate, atau terluka karena bekas pecahan kaca atau beling, pernah ada bapak petugas sampah yang tertusuk kakinya oleh tusuk sate dan tidak bisa bekerja hingga seminggu lamanya. Selain terluka karena bekas tusuk sate atau pecahan kaca, mereka pun sering mendapatkan sampah-sampah seperti bekas pembalut yang belum dicuci yang katanya aromanya lebih “harum” dibandingkan bangkai tikus. Kemudian sampah-sampah berupa tai kucing satu karung yang lengkap dengan pasir-pasirnya, yang akhirnya menambah beban gerobak, belum lagi brankal dan tumpukan potongan batang pohon yang pada akhirnya menghabiskan ruang gerobak si bapak petugas pengangkut sampah.

Memang betul itu risiko menjadi petugas pengangkut sampah, tapi cobalah sebelum bergantung kepada mereka (yang seharusnya disebut sebagai pahlawan juga) kita harus bergantung kepada diri sendiri, bisa dimulai dengan aware terhadap kuantitas sampah yang kita hasilkan dari rumah kita, kostan kita, atau tempat tinggal kita.

(Saya sarankan untuk berbincang dengan petugas pengangkut sampah di RW kita masing-masing, belajar darinya, agar kita tidak ikut-ikutan menjadi sampah… Eh gimana?).

Beliaulah para pahlawan yang menyelamatkan limbah-limbah kaum konsumtif, termasuk saya juga.

Penulis: Mochammad Andi Nurfauzi 

Instagram: @andimochamad

Blog: menujurumah.wordpress.com

Ingin menulis di #TamuHariRabu? Klik gambar di bawah. 

Klik gambar

2 thoughts on “Menjadi Sampah

Komentar