Nasi Kuning Underrated

Saya ingin meminta maaf kepada……

***

Begini awal ceritanya.

Selepas makan malam, istri saya melihat masih ada sisa nasi di mejikom. “Besok pagi bikin nasi goreng buat sarapan deh, masih cukup buat dua porsi”, ujarnya. Paginya, tak ada nasi goreng yang dijanjikan semalam. Penyebabnya, bukan karena bangun kesiangan atau istri saya tiba-tiba lupa cara bikin nasi goreng, melainkan…………………………………………..gas habis. Akhirnya sarapan di luar menjadi pilihan paling menuntungkan semua pihak.

Sepanjang jalan menuju tempat kerja, banyak sekali pedagang yang menawarkan solusi untuk perut saya pagi itu. Dari mulai bubur ayam yang menawarkan kenikmatan sesaat, soto ayam yang saya tak suka, dan KFC yang……….belum buka. Sekadar info, harga nasi kuning, kupat tahu, dll di sekitar komplek masih berada di kisaran harga 6 hingga 7 ribu. Artinya, sarapan yang saya cari, harganya berkisar segitu. Mengapa saya tak membeli kupat tahu di sekitar komplek? Karena seperti kata Mb Dian Sastro, bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau kupat.

Kecepatan motor saya pelankan untuk kemudian berhenti tepat di depan penjual nasi kuning. Segera saya memesan satu porsi untuk dibungkus. Belum juga si Ibu membungkus, saya ajukan satu pertanyaan.

Berapa harganya, Bu?”

10 ribu”, jawab beliau sambil menyiapkan kertas nasi.

Seketika dalam hati saya menggerutu dengan dua penyesalan penting. Kenapa tak membeli yang dekat komplek, yang harganya jauh lebih murah, dan kenapa Dian Sastro di umur segitu masih tetap cantik. Namun, penyesalan saya lenyap saat saya menyaksikkan betapa banyaknya teman nasi yang menyertai nasi kuning 10 ribu tersebut. Jika di dekat komplek saya membayar 6 ribu untuk nasi kuning + (sedikit) telur dadar iris + (sedikit) abon, kali ini 10 ribu yang saya serahkan berbalas nasi kuning + mie + tempe + telur bulat + telur dadar iris. Mevvah.

***

……Ibu penjual nasi kuning.

4 thoughts on “Nasi Kuning Underrated

Komentar