Obrolan Mamah-Mamah Muda

DSC_0004

10.00. Saya keluar ruangan menuju dapur.

Saya merogoh kantong sebelah kiri dan satu sachet kopi Torabika Susu seketika sudah dalam genggaman. Saya robek ujung kanan atas kemasan kopi dan isinya segera berpindah pada gelas hadiah dari salah satu bank. Tak lama, wujud mereka berubah menjadi cairan coklat panas yang aromanya memenuhi tiap sudut dapur sempit itu.

Saat tangan melalui perantara sendok sedang asyik mengaduk kopi, datang mamah-mamah muda berserta perut kosongnya. Beragam pangan dikeluarkan dari lokernya, mulai dari Energen hingga Mie Gelas. Sebagaimana Barcelona yang mengerikan dengan trio MSN, kombinasi mamah-mamah muda dan makanan akan terasa lebih lengkap dengan kehadiran gosip di tengah-tengah mereka.

Obrolan pun dimulai dari seorang mamah muda, sebut saja Kinal, yang bertanya pada rekannya, sebut saja, Melody, yang duduk tepat di sampingnya.

“Mel, kemarin kenapa kamu nggak masuk kerja?”

Seakan sudah siap dengan pertanyaan itu, Melody membeberkan alasan kenapa kemarin dia tidak bekerja.

“Sebenarnya kemarin aku udah siap berangkat kerja, cuma pas mau pamit sama anak, anak saya nggak mau saya tinggalin. Biasanya sih dia iklhas-ikhlas aja pas saya titip ke Ibu, tapi kemarin sama sekali gak mau jauh-jauh dari saya.  Saya udah bujuk dengan nambahin uang jajan, diajak keliling komplek sebentar, tapi tetap saja dia gak mau saya tinggalin buat kerja. Bisa aja sebenernya saya pergi tanpa sepengetahuan dia, tapi entah kenapa saya gak tega. Akhirnya saya memilih untuk seharimeninggalkan pekerjaan dan kehilangan premi hadir untuk menemani anak saya.”

Kinal dan rekan-rekannya yang lain hanya bergumam tanda mereka mengerti dengan penjelasan dari Melody.

Saya sendiri hanya mangut-manggut di pojokan sambil mengaduk kopi yang masih panas, seakan tak ingin ketinggalan obrolan dari mamah-mamah muda ini.

Tak lama, karena sama-sama sudah berkeluarga dan memiliki anak, rekan Kinal dan Melody yang lain, sebut saja, hmmmm kalau udah ada Kinal dan Melody, yang satu ini siapa lagi kalau bukan Nabilah, juga bercerita mengenai anaknya di rumah. Sama-sama tentang anak, tapi permasalahan Nabilah ini sedikit berbeda dengan masalah milik Melody.

“Kalau anak saya sih jarang rewel kalau saya kerja. Pernah sih waktu itu rewel dikit, tapi abis saya ajak keliling komplek, dia mau saya tinggal. Masalah saya, hmmm sebenernya bukan masalah sih. Jadi begini, di sini kan kalau ada yang ulang tahun selalu bagi-bagi makanan. Nah biasanya jatah makanan saya nggak saya makan di sini, tapi saya bawa buat anak di rumah. Dan yang ulang tahun kan gak tiap hari, sedangkan anak saya menganggap kalau makanan yang saya bawa adalah hadiah karena mau ditinggal kerja. Alhasil akhir-akhir ini sebelum pulang ke rumah, saya menyempatkan diri ke mini market untuk membeli sedikit makanan sebagai oleh-oleh untuk anak saya. Awal-awal sih gak masalah, tapi kalau terus-terusan seperti itu kan gak baik buat anak saya dan buat…………dompet saya tentunya.”

Rekan-rekannya hanya manggut-manggut tanda mengerti.

Mendengar cerita itu, saya jadi teringat Shaqil. Saya seruput kopi yang mulai turun derajat panasnya dan mulai bercerita tentang pengalaman saya dan istri mengasuh anak.

“Tiap hari, selama saya dan istri saya kerja, anak di titipkan di mertua saya. Tak terpikir bagi kami untuk mempekerjakan seseorang untuk mengurus anak kami. Akhirnya mertua pun jadi pilihan kami, karena katanya seorang nenek akan lebih sayang kepada cucunya melebihi anaknya sendiri, dan cucu orang lain. Tapi, saking baiknya, pada akhirnya akan timbul sedikit rasa cemburu dari kami selaku orang tua jika anak justru lebih dekat dengan neneknya dibanding kami.”

Saya menghentikan sementara cerita saya dan menyeruput kopi hingga hanya ampas yang tersisa di dasar gelas.

“Pernah waktu itu saat istri saya berangkat kerja dan berniat pamit pada Shaqil, dia malah terlihat cuek dan lebih betah berada di pangkuan neneknya. Kalau udah bisa ngomong mungkin dia akan bilang, “mau kerja? Kok masih di sini aja”. Lalu saat pulang kerja, dia yang sudah mengerti saat ada suara motor parkir di depan rumah, berarti orang tuanya sudah pulang dan bersiap menjemputnya. Dengan cepat dia menutup pintu seolah melarang kami masuk dan melihat kami dari balik jendela dengan seyuman seribu makna. Melihat pemandangan itu, ingin rasanya saya menyuruh istri saya untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu seutuhnya bagi Shaqil. Tapi, mengingat cicilan rumah, susu dan pengeluaran yang lain, hal itu nampaknya masih menjadi angan-angan.”

Saya mengakhiri cerita saya, sementara mamah-mamah muda di ruangan itu sedang sibuk dengan penganan masing-masing. Tak ada yang memerhatikan saya. Tapi saya tidak kaget apalagi sedih, karena saya tidak terlalu akrab dengan mereka, cerita saya tadi saya ungkapkan dalam hati saja.

Jarum panjang tepat menunjuk angka 4, yang artinya saya harus segera kembali bekerja.

Cerita di atas merupakan kisah nyata, dengan diberi sedikit bumbu fiktisodium glutamat agar lebih gurih.

3 thoughts on “Obrolan Mamah-Mamah Muda

  1. Cerita lain tentang obrolan mamah muda ada lagi gak kang. Soalnya ceritanya gurih, hehehe..
    MSN masih ada walau gak ada Messi. M pengganti itu Munir, 🙂

Komentar