PANIK!

IMG-20150625-WA0012
Bengkak-bengkak

Pagi itu, suhu tubuh Shaq agak tinggi. Tapi melihat dia masih aktif seperti biasanya, kami berdua tidak begitu khawatir. Istri saya tetap pergi kerja, saya pergi ke acara dari Pandit Football. Shaq sendiri seperti biasanya dititipkan di neneknya. Sorenya, istri saya menghubungi saya memberi kabar bahwa panasnya masih belum turun dan mau dibawa ke dokter yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Mengingat ini bukan pengalaman pertama dia ke dokter, saya masih belum terlalu panik.

Pulang dari acara, saya jemput istri dan Shaq pulang ke rumah. Di rumah, Shaq masih demam walaupun sudah diberi obat penurun panas dari dokter. Saat itu karena di rumah tidak ada termometer, hanya bermodal punggung tangan saya hanya bisa mengira-ngira suhu tubuhnya. Malamnya, Shaq makin rewel, nggak mau lepas dari pangkuan umyy nya, saya pegang lagi keningnya, suhunya makin tinggi. Tak berlama-lama, kami memberikan lagi obat penurun panas karena waktunya sudah memenuhi sejak terakhir kali diberikan. Selain memberikan obat penurun panas, kami pun mengkombinasikan dengan mengompres pada bagian ketiak dan kening.

Shaq sudah bisa lepas dari pangkuan umyy nya dan tidur walaupun mulutnya terus bersuara layaknya orang menahan sakit dan tiap berapa menit selalu terbangun. Kejadian itu terus berulang, hingga jarum jam menunjuk angka 12 Shaq tertidur dengan frekuensi terbangun yang lebih jarang.

Pukul setengah tiga dini hari, istri saya terbangun kaget dan berteriak tak karuan melihat Shaq mengerang dengan tubuh kejang dan posisi bola mata diatas. Sontak saya lompat dari tempat tidur dan langsung mengetuk tetangga di seberang yang memiliki dua anak kecil. Pikir saya dia pasti berpengalaman dengan kejadian seperti ini. Tapi setelah berkali-kali mengetuk mencoba membangunkan, tak ada tanda-tanda mereka membuka pintu. Saat hendak kembali ke rumah, tetangga sebelah yang tidak saya “ganggu” justru membuka pintu. Saya tidak membangunkan tetangga ini karena selain tidak terlalu kenal, tetangga ini juga anak-anaknya sudah besar, jadi tak begitu paham dengan kejadian seperti ini, pikir saya. Dan benar saja, kedatangannya pun “hanya” memberikan saran agar kami tidak panik dan menyarankan langsung membawa ke rumah sakit. Dengan segera dan rasa panik yang masih mendera, saya mempersiapkan keperluannya selama nanti di rumah sakit. Shaq sendiri masih kejang walaupun tidak separah saat pertama tadi.

Sambil terus mengompres, kami langsung membawa Shaq ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, saya yang membonceng mertua terus bertanya bagaimana keadaan anak saya yang berada dalam pangkuannya. Sementara istri saya yang posisinya berada di sepan dibonceng adiknya, berkali-kali menoleh ke belakang penasaran dengan keadaannya. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit itu, pikiran buruk seolah tak mau lepas dari kepala saya dan istri saya. “Masa sih harus kehilangan dia secepat ini”, pikir saya.

Sesampainya di rumah sakit, Shaq langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat untuk segera mendapat penanganan. Panasnya berangsur turun setelah diberikan obat penurun panas yang diberikan via anus. Paginya, karena demamnya sudah turun dan rumah sakit ini tidak bekerja sama dengan asuransi tempat Shaq terdaftar, kami memutuskan membawa Shaq pulang. Sorenya, Shaq kembali kami bawa ke rumah sakit karena suhu badannya kembali tinggi walaupun sudah diberi obat penurun panas. Kali ini kami membawa Shaq ke rumah sakit yang bekerja sama dengan asuransi tempat Shaq bernaung.

Setelah melewati dua kali proses pengambilan darah, rawat inap selama lima hari dan didiagnosa terkena virus tampak (sejenis campak tapi berbeda), Shaq diizinkan pulang. Kini senyuman yang sempat bersembunyi kembali tersungging dari bibirnya seraya menyombongkan gigi-giginya yang mulai tumbuh.

Gigi
Gigi – 1
IMG-20150625-WA0018
Gigi – 2
IMG-20150625-WA0019
Gigi – 3
IMG-20150625-WA0020
Gigi – 4
IMG-20150625-WA0021
Gigi – 5
IMG-20150625-WA0022
Gigi – 6

9 thoughts on “PANIK!

Komentar