Pelajaran Berharga Saat Wawancara

Di lobby kantor sebuah industri farmasi terkemuka di Bandung, duduk Indra Bagaskara, Edi Hidayat dan Akbar Perdana. Mereka bertiga menunggu seorang HRD yang akan mewawancara mereka. Indra mengisi waktu luang dengan bermain game di ponselnya, Akbar lebih memilih berdoa untuk mengurangi ketegangan. Sementara Edi masih mengisi form aplikasi penerimaan karyawan. Edi memang datang paling akhir diantara dua calon karyawan yang lain.

Turun dari lantai dua, Pak Irwan, HRD yang akan mewawancarai tiga calon karyawan tadi sambil tersenyum pada resepsionis yang duduk manis sambil memegang gadget yang baru dibelikan kekasihnya. Melihat Pak Irwan yang terlihat mendekat, mereka bertiga kompak berdiri dan bersalaman sambil memperkenalkan diri. Pak Irwan kembali mempersilakan mereka duduk, sementara dia langsung masuk ke ruang wawancara yang letaknya tak jauh dari meja resepsionis.

Resepsionis mulai memanggil calon karyawan untuk masuk ke ruang wawancara. Indra mendapat kesempatan pertama. Dengan langkah yakin ia masuk ke dalam ruangan dan ia duduk di depan Pak Irwan. Setelah kurang lebih lima belas menit, Indra keluar dengan wajah yang agak kesal. Sepertinya ia kurang puas dengan jawaban-jawaban yang keluar dari mulutnya. Edi mendapat giliran selanjutnya, namun karena ia sedang berada di kamar kecil, maka Akbar yang lebih dulu menghadap Pak Irwan. Sama seperti Indra, raut kepuasan juga tak tergambar di wajah Akbar. Entah hal apa yang membuat Akbar tak puas, mungkin kebiasaan Akbar yang seringkali gagap saat ia sedang gugup.

Edi yang baru keluar dari kamar kecil langsung masuk ke ruang wawancara atas intruksi resepsionis. Seperti yang lain, Edi duduk di depan Pak Irwan dengan kedua tangan berada di atas meja. Pak Irwan membuka obrolan dengan berkata, “saudara Edi, maaf saya tidak bisa mewawancarai anda,..”

“Loh kenapa, pak?”, potong Edi tanpa menunggu Pak Irwan selesai berbicara.

“Sebentar, dengarkan dulu omongan saya”, timpal Pak Irwan.

“Saudara Edi, maaf saya tidak bisa mewawancarai anda, dan otomatis peluang anda bergabung bersama kami sudah tertutup”, lanjut Pak Irwan.

“Loh kenapa, Pak?“, tanya Edi penuh rasa penasaran.

“Apakah karena tadi saat giliran saya wawancara, saya sedang berada di kamar kecil, jadi Bapak menilai saya tidak patuh terhadap waktu?”, lanjut Edi dengan nada bicara yang mulai tak terkontrol.

“Bukan, bukan itu alasan saya, masa iya saya melarang orang untuk ke kamar kecil”, jawab Pak Irwan yang masih bisa tersenyum.

“Lalu? ”

“Begini, minggu lalu kami harus rela mempersilakan pergi seorang karyawan, padahal dilihat dari kehadiran dan prestasi, karyawan tersebut bisa dibilang di atas karyawan lain.”

“Lalu, masalah apa yang membuat karyawan itu terdepak?”

Sambil menunjuk jari manis Edi, Pak Irwan menjawab,

“Batu Akik”

9 thoughts on “Pelajaran Berharga Saat Wawancara

      1. Sama2 kita belajar mas ganganjanuar. Tapi beneran deh ini tulisan di akhir absurd banget endingnya. Absurd gak berarti jelek loh, cuma unik aja. Ibarat Batman Vs Superman yang menang Kim Jong Un. Kentang banget gak tuh?

Komentar