[REVIEW] PPIC vs IPC: Futsal Fantasi Rasa Luzhniki

Estadio Santiago Fantasio
Estadio Santiago Fantasio

21 Mei 2008, bersama iringan hujan John Terry berjalan dari garis tengah lapangan menuju kotak dua belas pas. Di bawah mistar sudah berdiri Edwin Van Der Sar, kiper pemegang 2 gelar Liga Champions. Rekan-rekannya yang menunggu di garis tengah harap-harap cemas. Pasalnya, tendangan sang kapten ini adalah tendangan penentu. Jika masuk, trofi The Big Ear terbang ke London. Namun jika gagal, drama akan berlangsung semakin panjang.

Lubos Michel meniup peluit mempersilakan Terry menendang. Kaki kanan yang seharusnya jadi penentu itu gagal menjalankan tugas. Bola melambung karena sang empunya kaki terpeleset akibat licinnya lapangan. Air mata yang tertutupi hujan menemani Terry kembali pada rekan-rekannya. Air mata yang semakin membuncah tatkala Anelka gagal menyelamatkan tim dan melihat rival berjaya.

3 Februari 2016, langit cerah gedebage menjadi pengantar pertandingan perempat final turnamen futsal 789 antara PPIC melawan divisi tempat saya bernaung, IPC. Sama seperti final Luzhniki 2008, kedua tim menggunakan seragam berwarna merah dan biru.

Tak butuh waktu lama untuk menunggu terjadinya gol. IPC unggul tak lama selepas peluit sepak mula di tiupkan. Jual beli serangan terjadi, gol demi gol pun tak bisa dihindari. Pertandingan yang berjalan cukup keras ini menghasilkan angka identik bagi kedua tim, 3-3. Tak lupa, acungan empat jempol layak diberikan pada pendukung kedua tim, yang bersedia meluangkan waktu untuk mendukung rekannya bertanding. Mereka yang sepanjang laga tak kenal lelah menyuntikkan semangat. Pada akhirnya, laga sengit ini pun harus dilanjutkan lewat adu tendangan penalti.

Tiga orang terpilih disiapkan masing-masing kubu. PPIC yang mendapat kesempatan pertama gagal membuka angka. IPC berhasil unggul setelah penendang pertama berhasil menembus gawang kiper yang sepanjang laga bermain bak Manuel Neuer, sebagai sweeper keeper. Skor 2-1 menjadi penghias saat penendang terakhir IPC maju untuk menjalankan tugas. Tendangan keras dilepaskan, bola berhasil ditahan namun bola yang terlepas bergulir masuk ke gawang.

Ketegangan memuncak saat penendang penentu maju. Sesuai regulasi yang ditetapkan panitia, kali ini kedua kiper yang mengambil peran. Satu tendangan penentu. Andai masuk, si kiper penendang dan timnya melaju. Namun jika sebaliknya, maka sang kiper yang menerima tendangan yang lolos. Setelah diundi, kiper IPC yang harus menendang, dan si Manuel Neuer ala-ala bertugas sebagai kiper. Semua elemen merasakan ketegagan, rekan yang sudah menyelesaikan tugas hanya bisa berharap lewat doa, begitu pula dengan para suporter militan di pinggir arena. Tendangan dilepaskan dan, TOR!! bola membentur tiang yang secara otomatis mengantar PPIC ke empat besar dan membawa IPC ke lembah duka.

Hasil tak bisa ditentang, hanya jargon Kopites yang terngiang. NEXT YEAR WILL BE OUR YEAR!!

Bravo IPC!

Komentar