Roman Yang Merindukan Si Kuping Besar

Musim 2007-2008 Chelsea nyaris menjadi klub London pertama yang memenangkan gelar Liga Champions. Stadion Luzhniki dan Manchester United adalah tempat dan lawan bagi Chelsea saat itu. Sayang, kegagalan John Terry dan Nicholas Anelka dalam mengeksekusi penalti membuat harapan itu sirna mengalir bersama hujan yang mengguyur tanah Rusia.

Kesempatan kembali datang. Final kembali dijejak. Lawan yang dihadapi adalah raksasa Jerman, Bayern Muenchen. Sialnya arena yang dipakai untuk menggelar laga adalah Allianz Arena, kandang dari Muenchen. Laga yang dihelat pada 12 Mei 2012 itu berakhir dengan skor kacamata hingga babak pertama usai. Menit ke-83, Thomas Muller berhasil membuat seisi stadion bergemuruh usai tandukannya menembus gawang Chelsea yang dijaga Petr Cech. Namun, Dewi Fortuna belum pergi, ia masih berada dalam kepala Didier Drogba.

Andai Arjen Robben mampu memaksimalkan tendangan penalti, mungkin laga akan berakhir di 2×15 menit. Namun karena kesigapan Petr Cech, laga pun berlanjut hingga adu tendangan penalti. Dalam adu penalti, tak ada nama John Terry di daftar penendang seperti di musim 2007-2008. Terry menerima skorsing akibat kartu merah melawan Barcelona di semifinal sebelumnya. Bayangan kegagalan ada didepan mata setelah Juan Mata gagal sebagai penendang pertama. Didier Drogba yang pada final 2008 tidak menjadi algojo karena mendapat kartu merah saat perpanjangan waktu, menjadi pahlawan setelah sepakannya tak bisa dihalau Manuel Neuer.

Skuat juara itu kini telah tercerai-berai. Petr Cech sedang dalam masa kelam bersama Arsenal. Keistimewaannya sebagai pemain yang belum pernah dibobol Messi, tak berlanjut di Arsenal. Obi mikel tak kuasa menahan godaan Yuan. Torres, kembali ke pangkuan Atletico setelah lelah mencari ketajamannya yang hilang entah kemana. Frank Lampard yang menjabat kapten saat laga final, memutuskan berhenti dari dunia sepakbola usai berkelana ke Amerika. Sang arsitek, menjalani musim yang buruk setelah dipecat Aston Villa.

Ryan Bertrand, tak ingin menjadi seperti kebanyakan pemain muda Chelsea yang dilempar kesana kemari, memutuskan berbaju Southampton. Juga Juan Mata, yang rela menukar jersey nomor 10 dengan menit bermain bersama Manchester United. Praktis, tinggal Gary Cahill, warisan juara yang masih bertahan di Stamford Bridge. Ditambah David Luiz yang kembali berseragam biru setelah sempat dibeli mahal oleh PSG.

Roman Abramovich jelas tak rindu semua nama di atas. Dia rindu apa yang dihasilkan nama-nama di atas. Dia rindu mengangkat si kuping besar penuh bekas kecupan para pasukannya. Yang paling dekat, Dia rindu menonton Liga Champions. Dan nampaknya akan terkabul musim depan. Dengan si hidung besar dibawah mistar, Alonso yang berlari ke depan ke belakang, Hazard yang semoga tidak dibajak, dan Costa yang semoga melupakan Yuan. Dibawah kendali Conte, semoga kisah 2012 terulang.

2 thoughts on “Roman Yang Merindukan Si Kuping Besar

Komentar