Sejarah, Mitos, Kutukan, Dan Ronaldo

ucl pandit
Drawing UCL

Liga Champions Eropa musim ini nyaris mencapai babak akhir. Empat tim telah memastikan langkahnya di babak empat besar. Spanyol, Kota Madrid khususnya, patut berbangga karena mengirimkan dua wakil di babak ini. Atletico dan Real Madrid berkesempatan mengulang final edisi 2013/2014 dimana saat itu Real Madrid keluar sebagai juara sekaligus mengunci gelar kesepuluh mereka. Dua klub lain pengisi slot semifinal adalah Bayern Muenchen dan Manchester City yang menjadi tulang punggung Inggris dalam menjaga nilai koefisien.

Pengundian babak semifinal pun telah dilakukan. Pellegrini, yang membawa bendera Manchester City akan bersua mantan timnya, Real Madrid. Semifinal lain menyajikan ulangan partai final musim 1973/74, yakni Atletico Madrid yang berhadapan dengan Bayern Munchen. Komposisi semifinal yang menarik, dimana terbuka kemungkinan terjadi ulangan final 2013/14, atau Pep yang bisa berhadapan dengan Manchester City yang mulai musim depan akan menjadi rumahnya.

Babak sebelumnya, yakni perempat final juga memunculkan beberapa hal menarik. Yang pertama dan paling banyak dibahas tentu hasil akhir dari keempat pertandingan yang menghasilkan skor agregat identik, yakni 3-2. Mungkin ada yang lupa, berikut ini rekap singkatnya. Real Madrid yang takluk 0-2 di Volkswagen Arena, membalikkan keadaan dengan menghajar Wolfsburg 3-0 di Bernabeu. Tim Madrid lain, Atletico, sukses mengalahkan Barcelona 2-0 di leg kedua, setelah kalah tipis 1-2 di Camp Nou yang diwarnai kartu merah Fernando Torres. Manchester City lolos setelah menang tipis 1-0 menghadapi PSG yang mereka tahan 2-2 di leg pertama. Terakhir, hasil seri belum cukup membawa Benfica menyingkirkan Bayern Munchen karena di leg pertama tim asal Portugal tersebut kalah tipis 0-1.

Tersingkirnya Benfica tersebut juga menegaskan bahwa kutukan Bela Guttmann masih berlaku. Siapakah Bela Guttmann? Apa hubungannya dengan bela negara? Atau Bella Sophie? Bela Guttmann adalah pelatih yang membawa Benfica menjuarai Liga Champions dua musim berturut-turut, yakni musim 1961 dan 1962. Pasca kesuksesan tersebut, Guttmann merasa dirinya layak mendapat ganjaran kenaikan gaji. Namun, keinginan Guttmann tak sejalan dengan pihak klub. Tak terima dengan  perlakuan klub, Guttmann pun pergi.

Yang jadi masalah adalah ucapan yang dilontarkan Guttmann saat pergi dari klub yang dibawanya sukses tersebut. Guttmann berucap, “Moal bisa dina jangka waktu saratus taun timimiti ayeuna Benfica jadi jawara Eropah.” Yang kurang lebih artinya, “Tak akan bisa dalam jangka waktu 100 tahun dari sekarang Benfica jadi juara Eropa”. Terbukti, dalam delapan kesempatan partai final yang didapat Benfica, semuanya berakhir dengan kekalahan.

Pertandingan perempat final lain menghadirkan Manchester City sebagai pemeran utama. Tetangga berisik Manchester United tersebut untuk pertama kalinya sukses menembus babak empat besar setelah dalam beberapa musim terakhir kebanyakan gagal lolos dari fase grup. Akankah mereka kembali menuliskan sejarah dengan menginjakkan kaki di final untuk kali pertama, sekaligus memupus harapan El Real menggapai trofi kesebelas?.

Tak adanya proteksi satu negara bertemu di perempat final membuat Atletico Madrid harus ikhlas dan ridho bertemu Barcelona. Fakta bahwa posisi di klasemen liga mereka berada di bawah El Barca, tak membuat mereka terbebani. Sepasang gol dari Antoine Griezmann pada leg kedua akhirnya membawa tim asal Madrid ini kembali menjejak semifinal.

Hasil ini semakin menguatkan mitos bahwa sejauh ini belum ada tim yang bisa menjuarai Liga Champions berturut-turut. Chelsea bisa sih musim 2012/2013, walaupun yang dimenangi Liga Champions Downgrade. Hehehe.  Selain itu, kesuksesan Atletico menyingkirkan Barcelona dari persaingan adalah untuk mengaktifkan kembali “jimat”, bahwa tim yang mengalahkan Barcelona akan menjadi juara. Kekuatan “jimat” ini sempat luntur saat Atletico tumbang dari Real dalam derbi Madrid musim 2013/14.

Satu lagi pertandingan babak perempat final adalah Wolfsburg yang bertemu dengan Real Madrid. Satu kaki Wolfsburg sudah berada di semifinal setelah hasil leg 1 menunjukkan skor 2-0 untuk tim tuan rumah. Namun apa daya, satu kaki lain yang seharusnya ayunannya semakin ringan, malah  membawa kaki yang telah berada di depan untuk kmbali ke belakang. Untuk hal ini, ada satu nama yang patut bertanggung jawab.

RONALDO!.

sumber gambar: @panditfootball

2 thoughts on “Sejarah, Mitos, Kutukan, Dan Ronaldo

Komentar