The Power Of Serat Pangan

IMG_20160125_090956

Salah satu “kerepotan” jika memiliki anak kategori #TimSusuFormula adalah memilih susu formula itu sendiri. Tak seperti ASI yang sumbernya hanya satu, yaitu dari “pegunungan”, susu formula hadir dalam berbagai macam merk dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari yang harganya bikin senyum sumringah, hingga yang bikin senyum getir. Pada akhirnya kembali pada si anak, cocok dengan susu yang mana.

Shaqil, sepanjang sejarah persusuannya, telah mengalami tiga kali pergantian merk susu. Awal perkenalannya dengan susu formula adalah dengan Morinaga BMT yang diperuntukkan untuk bayi 0 hingga 6 bulan. Tak ada masalah berarti sepanjang enam bulan “kebersamaan” Shaqil dengan Morinaga BMT. “petaka” muncul saat pergantian dari Morinaga BMT ke Morinaga Chil-Mil untuk bayi usia 6 hingga 12 bulan. Selama beberapa minggu menggunakan Chil-Mil, Shaqil menjadi susah buang air besar. Perlu usaha ekstra hanya untuk sekedar buang hajat.

Tak ingin masalah berkelanjutan, kami berdua memiliki rencana untuk mencari susu lain pengganti Chil-Mil. Setelah berdiskusi, akhirnya pilihan kami jatuh pada Nutribaby, dalam hal ini Nutribaby 2, susu dengan level umur yang sama dengan Chil-Mil. Setelah berganti susu, tak ada drama berarti saat tiba waktunya buang hajat. Rasa was-was menghinggapi saya dan istri saat Shaqil menginjak usia 1 tahun. Was-was karena Shaqil harus kembali mengganti susunya, dari 6-12 bulan naik ke 1-3 tahun. Pada akhirnya ras was-was itu hilang karena susu lanjutan dari Nutribaby 2, yaitu Nutrilon 3 cocok dengan Shaqil. Parameter cocok kami ya itu, harus lancar buang air besar. Hahaha.

Namun ada harga yang harus dibayar dibalik kelancaran buang air besar Shaqil, yaitu pos belanja yang membengkak di sektor susu. Ya, Nutrilon ini masuk kategori susu berefek senyum getir saat menebusnya. Demi dapur yang harus ngebul, akhirnya kami sepakat untuk men-downgrade susu untuk Shaqil. Downgrade yang saya maksud di sini adalah dari segi harga, karena seperti yang saya singgung di atas, harga mahal pun kalau tak cocok dengan si anak ya PRCM, alias percuma.

SGM akhirnya menjadi susu pilihan kami untuk Shaqil, pengganti Nutrilon 3. Harganya jauh lebih ekonomis. Saya ulang, JAUH LEBIH EKONOMIS. Dimulailah era baru Shaqil bersama SGM. Era baru yang memunculkan masalah lama, susah BAB. Level susah yang saya maksud itu tidak buang air besar selama seminggu. Dalam seminggu itu bukan berarti Shaqil tak ada keinginan untuk buang air. Tiap hari dia ngeden, tapi karena tekstur fesesnya keras, sehingga sangat suulit untuk mengeluarkannya. Kami sedih saat dia ngeden sampai wajah memerah dan akhirnya menangis karena fesesnya sangat susah keluar. Tak hilang akal, kami rutin memberinya pepaya dengan tujuan menghasilkan feses dengan tekstur lembut. Namun karena tak membuahkan hasil, kami akhirnya menggunakan senjata pamungkas, pencahar.

Sadar bahwa pencahar bukanlah solusi jangka panjang, kami memutuskan untuk mengganti SGM dengan yang cocok untuk Shaqil. Tak ingin coba-coba, pilihan kami akhirnya kembali pada Nutrilon 3, yang kelancaran bab-nya berbanding lurus dengan uang yang harus kami keluarkan.

Cari info sana sini, istri saya mendapat jawaban bahwa keberadaan serat pangan lah yang bertangungjawab atas lancar tidaknya buang air besar. Suatu hari, saya dan istri pergi ke super market guna memperhatikan komposisi dari masing-masing susu yang saya singgung di atas. Hasil temuan kami, dari tiga susu tersebut, hanya Morinaga yang tidak memiliki kandugan serat pangan. Lalu mengapa SGM masih saja berefek susah buang air besar? Kami beralih pada kuantitas si serat pangan. Kandungan serat pangan pada SGM hanya 1 gr, sedangkan Nutrilon memiliki dua kali lipatnya, yakni 2 gr. Hasil investigasi kami memang (sangat) diragukan kebenarannya. Namun fakta di lapangan berkata demikian. Nutrilon datang, susah bab hilang!. 

Begitulah kisah Shaqil dan susunya, yang kalau meminjam kata-kata Ernest Prakasa, mau susu formula mengangung AHA, DHA, ataupun Kamehameha, tetap ASI yang terbaik, karena bartendernya Tuhan!. Walaupun begitu, kami tetap bangga berada di #TimSusuFormula

Setelah panjang lebar, tulisan ini saya tutup dengan sebuah kata mutiara,

Susu anak boleh berganti, untuk bapaknya yang dua itu selalu dinanti.

4 thoughts on “The Power Of Serat Pangan

  1. Hahah, sepakat. Saya juga menjadikan BAB sebagai patokan cocok enggaknya.
    Tapi ada lagi faktor lain. Si Anak mau ga ??

    Anak pake sufor pas usia 11 bulan. Dan pilihan jatuh ke chil-mill (karena pake bebelac *yang murah* doi muntah).

    Nah, ga masalah tuh pake chil-mill. Usia nambah, ganti ke chil-kid. Ga masalah juga. Tapi si dede agak kurus. Di saranin pake nutrisure s26 gold. Dan dia suka.

    Tapi sekarang kalau di kasih chil-kid langsung dibuang lah. Alhasil kamu harus audit uang keuangan. Karena setelah pake nutrisure, kuantitas minumnya jadi bertambah.

    1. Nah iya parameternya nambah selain lancar BAB.
      Haha iya harus ada pos keuangan khusus susu.
      Ada anak temen yang pake ASI, tapi dia boros di diapers. Hidup 🙂

Komentar